RINGKASAN

Pendahuluan

Kota Bandung ditunjuk sebagai pilot project kota kreatif se-Asia Timur dan Asia Tenggara berdasarkan pertemuan Yokohama Juli 2007. Selain itu, pemerintah mencanangkan tahun 2009 sebagai Tahun Ekonomi Kreatif Indonesia. Perkembangan industri kreatif di Kota Bandung pun berlangsung semakin pesat, terutama dalam sektor fesyen, desain, dan musik. Perkembangan industri kreatif tersebut berdampak terhadap produktivitas ekonomi daerah yang juga mengindikasikan peningkatan intensitas sistem kegiatan. Muncul pertanyaan, bagaimana implikasi perkembangan industri kreatif terhadap pola penggunaan lahan? Tujuan penulisan karya tulis ini adalah untuk menjawab hal tersebut, yaitu dapat teridentifikasinya dampak perkembangan industri kreatif di Kota Bandung terhadap guna lahan dan rumusan pengelolaannya.

Tinjauan Pustaka

Teori yang membantu untuk analisis dalam karya tulis ini terdiri dari materi yang berhubungan dengan (1) pengertian dan batasan industri kreatif; (2) manajemen perubahan guna lahan; dan (3) indikator kontribusi ekonomi industri kreatif.

Metodologi

Metodologi penelitian karya tulis ini terdiri dari metode pengumpulan data dan metode analisis. Metode pengumpulan data dalam karya tulis ini adalah dengan memanfaatkan data sekunder dari studi sebelumnya. Analisis yang digunakan pada umumnya menggunakan metode deskriptif yang menjelaskan informasi melalui tabel, gambar, dan besaran statistik tertentu.

Analisis

Perkembangan industri kreatif di Kota Bandung berjalan terutama dalam sektor fesyen, desain, dan musik. Keberadaan industri kreatif ini juga menarik wisatawan untuk berkunjung terutama pada akhir pekan. Lokasi usaha industri kreatif tersebar di Kota Bandung, tetapi paling banyak berkumpul di Wilayah Pengembangan Cibeunying yang merupakan wilayah yang paling banyak sistem kegiatan di dalamnya, baik pendidikan, pemerintahan, maupun perdagangan dan jasa.

Mayoritas penggerak usaha industri kreatif di Kota Bandung adalah perusahaan perseorangan dengan jumlah pekerja tidak lebih dari 10 orang dan berlokasi di sekitar perumahan. Walaupun begitu, kontribusi indsutri kreatif terhadap ekonomi cukup besar. Pada tahun 2007, industri kreatif di Kota Bandung menyumbang 14,46% PDRB dengan menyerap ribuan tenaga kerja. Melihat kontribusi yang besar ini sangat tepat bila pengembangan industri kreatif harus diperhatikan dengan baik.

Pada dasarnya, berkembangnya industri kreatif di sekitar perumahan dapat ditanggapi secara positif sehubungan dengan kontribusi tersebut. Akan tetapi, perkembangan industri kreatif di sekitar perumahan tersebut merujuk kepada potensi pengembangan lahan yang menjadi salah satu persoalan penataan ruang kota. Dengan demikian, diperlukan suatu pengembangan manajemen perubahan guna lahan dengan kriteria yang berbeda untuk setiap sektor industri kreatif. Ini dapat dipahami karena setiap sektor tersebut memiliki karakteristik bangkitan dan eksternalitas yang berbeda sehingga pengembangan kebijakannya pun dapat dispesifikkan. Dalam menentukannya, dapat dipertimbangkan tiga nilai: sosial, pasar dan lingkungan yang secara seimbang dapat membangun kota secara berkelanjutan.

Kesimpulan dan Saran

Penulis berhasil mengidentifikasi dampak perkembangan industri kreatif terhadap pola penggunaan lahan di Kota Bandung. Perubahan guna lahan yang dapat terjadi akibat perkembangan industri kreatif harus ditanggapi dengan pertimbangan yang baik. Manajemen perubahan guna lahan tersebut harus mengakomodasi perkembangan industri kreatif di Kota Bandung sehingga tidak hanya mempertimbangkan keuntungan ekonomi yang mungkin diperoleh, tetapi juga keseimbangan lingkungan dan kenyamanan yang diterima oleh masyarakat.

(Paper ini ditulis untuk Seleksi Mahasiswa Berprestasi Tingkat SAPPK 2009)

Advertisements