Bagi orang plano, yang namanya survei itu makanan pokok yang suka ga suka harus dinikmati. Ya, kadang-kadang suka males sih, harus pergi ke negeri antah berantah, berpakaian lapangan (terkadang harus berpakaian rapi tapi dengan sepatu yang memungkinkan untuk berlari), panas-panasan, tapi ya memang survei ini harus dianggap sebagai liburan *wae*. Tapi, sebagai spatial planner, ketika survei saya sering loh disorientasi arah dan nyasar. Memalukan -_- tapi okelah, atas permintaan Mbak Niken yang baik saya ceritan beberapa kejadian yang saya alami waktu survei maupun perjalanan lainnya.
Survei PHKI ujicoba kuesioner profil usaha UKM di Bekasi (Bekasi jilid I) – Mei 2010
Undoubtedly, ini survei berat sekali. Kami harus ke 15 kecamatan di Kabupaten Bekasi yang kebanyakan antah berantah itu, untuk memetakan dan mencoba kuesioner yang tebel gilak. Saya berpartner dengan Hanesy Forisa, yang kebetulan satu aspek kerjaannya. Dalam survei ini kami biasa naik ojeg dari hotel dan ngeplot ke pelosok kecamatan. Pakaian dinas lapangan kami waktu itu, celana cargo, kaos, rompi seragam warna coklat, dan masker. Karena berpenampilan seperti ini, saya sering dikira tukang listrik lah, tukang nagih utang lah, tukang gusur juga, pokoknya semua mata memandangku curiga.
Perangkat survei yang digunakan waktu itu ya kuesioner, GPS dan peta. Pasangan survei yang lain biasanya yang cowok megang peta sekaligus GPSnya, sedangkan si cewek megang alat tulis dan kuesioner. Tapi saya dan Ivo ga gitu. Saya megang peta plus alat tulis, sedangkan Ivo megang GPS. Ngomong-ngomong soal arah dan tujuan, ada aja cerita bodohnya. Kan saya sama Ivo pake ojeg yang berbeda, si abangnya yang satu cepet jadi yang satu ketinggalan. Pernah suatu ketika, saya terpisah dengan Ivo, terus saya panik dan nelpon-nelpon. Akhirnya kita ketemu lagi. Sialnya si abang ojeg terpana dengan itu, dan menganggap saya ketakutan akan dibawanya kabur *wae maneh*. Lebih ngekngoknya lagi, si abang ini membahas ini sama temen-temen ojegnya yang lain -__-
Bukan hanya itu, pernah juga suatu ketika, karena peta dan GPS dipegang orang yang berbeda, saya dan Ivo beberapa kali ga sepakat soal arah dan jalan yang harus diambil. Akhirnya kita berantem di pinggir jalan. Ojeg-ojeg kita berdua cuma bisa ngeliatin dengan terbengong-bengong, abisnya mereka juga ga apal jalannya. Pokoknya, survei kali ini cukup membuat harkat dan martabat saya jatuh di mata para dosen, karena cerita kemalangan saya ini dibahas T__T
Survei PHKI penyebaran kuesioner profil usaha UKM di Bekasi (Bekasi jilid II) – Juli 2010
Menyadari hal tadi sepertinya akan terulang lagi pada survei kedua ini, saya kemudian meminta partner saya diganti. Akhirnya saya survei bersama Ceuceu Madel. Lucunya, si Ceuceu teh dengan antusiasnya dia panik sendiri harus perfect dan all out survei bareng saya. Taunya, pas survei saya tidak lebih dari seperti anak ilang yang tersesat di hutan. Jadi kemanapun kita pergi harus dia yang menentukan. Setiap pulang survei Ceuceu menghabiskan waktunya untuk curhat kepada teman-teman, tentang bagaimana dia mengasuh saya seharian. Hahaha.. parah ya gue, dari situ sebenarnya saya sedikit berpikir bagaimana agar tidak disorientasi ketika bepergian.
Survei ke BPS Pusat (Jakarta) – Agustus 2010
Saya dan Ishma mengerjakan riset Gerbangkertosusila, limpahan dari Ka Kitty yang harus istirahat penuh selama beberapa bulan. Waktu itu lagi bulan puasa, kita naik travel kemudian ke BPS pake busway. Seperti biasa, ketika berjalan saya nampak seperti anak ilang. Waktu naik jembatan penyeberangan, saya bahkan berjalan terantuk-antuk, mana heboh sendiri buka tutup payung karena hujan. Ada kejadian tidak mengenakkan di BPSnya, karena mereka akan tutup jam 3. Sementara, pesanan referensi lama yang sudah kita minta sejak jam 12 tadi belum juga dikeluarkan. Akhirnya terjadilah pertengkaran hebat antara Ishma dengan bapak-bapak BPS! Karena Ishma menangis tersedu-sedu, akhirnya Bapaknya pun membukakan ruangan referensi sambil bersungut-sungut menyuruh kami mencari sendiri bukunya. Waktu itu saya cuma bisa terdiam terpaku ga tau harus gimana, hehehe.
Survei Gerbangkertosusila (ke Surabaya) – Oktober 2010
Ya, inilah bulan madu saya bersama Tante Ishma. Berduaan ke Surabaya, tinggal di hotel yang sama, TAPI KAMAR YANG BERBEDA, hahaha! Mau gimana lagi, karena merasa ada yang lebih senior, saya menyerahkan segala apa pun kepada beliau. Ketika keluar dari hotel, kemudian saya melihat sekeliling, hah dimana kita, mau ke arah mana kita. Selama di Surabaya Ishma yang memegang peta, dan saya mengikuti arah yang ditunjukkannya. Terkadang saya ngotot juga sih, waktu menentukan arah. Kesana kesana, yakin bener. Padahal memang jalannya salah. Oh my, rasanya memang beneran saya harus melatih daya spasial saya, wkwkwk.
Berobat ke Boromeous – Maret 2011
Seringkali saya pergi ke suatu tempat, kemudian nyasar di dalam gedung itu. Atau setidaknya berhasil keluar dari gedung itu, tapi di pintu yang lain. Ini juga yang terjadi waktu saya berobat jalan di Boromeous. Setelah selesai saya keluar, tapi malah muter-muter dan keluar dari pintu belakang. Dengan sedikit kesal sendiri pun saya harus berjalan lebih jauh untuk sampe ke kampus.
Survei riset ke Blok S, Jakarta – April 2011
Kali ini saya harus mulai sedikit keliatan dewasa, karena harus survei sama Sani. Ya, emang yang namanya dewasa itu relatif ya, terkadang lo terpaksa harus dewasa karena lo harus mengayomi yang lain. Sebenernya dari awal berangkat sampe selesai wawancara responden orang di Blok S, semuanya lancar dan ga ada nyasar-nyasaran. Cuma, pas kita pulang dan ga dapet travel pulang sore-sore, kita sebenernya mencoba ke Xtrans Blora. Dengan pede-pedean waktu itu kita naik busway dari GBK, entah ke arah yg mana. Kemudian turun juga seenaknya, akhirnya pas turun kebingungan. Abisnya sih dikasih taunya salah sama kondektur buswaynya, sotoy juga dia. Kita sempet beberapa kali naik turun jembatan penyeberangan untuk mencari tempat yang kita cari, tapi ternyata ga ketemu. Setelah kelelahan, akhirnya kami menyerah dan kembali ke fX untuk menunggu jam kepulangan kami pukul 9 malam dan baru nyampe Bandung jam 12 tengah malam T__T
Survei riset ke Solo – Mei 2011
Ayeyy.. ini namanya liburan colongan. Masih dengan Mas Sani, kami harus mewawancarai banyak sekali responden. Belajar dari pengalaman sebelumnya, kali ini saya berusaha sedikit untuk membaca peta sebelum berangkat ke Solo. Oke, lumayan ngerti deh. Dan memang survei kali ini saya yang harus memegang kendali. Selama perjalanan, di bus atau di taksi, Sani kadang-kadang suka diam-diam tertidur atau kalo ngga autis sendiri dengan BBnya. Saya pun kemudian harus memperhatikan jalan dengan baik. Ga lucu kan kalo tempat tujuannya kelewat. Haha! Kali ini saya berhasil dan tidak disorientasi lagi.
Survei riset ke Semarang – Mei 2011
Masih satu paket dari survei Solo sebenernya, jadi dari waktu seminggu di Solo, tengah-tengahnya kita pergi ke Semarang. Waktu itu saya ga punya peta Semarang, dan Sani pun nampak yakin sudah lumayan tau kota ini karena adiknya kuliah disini. Okelah, saya percaya. Kita berangkat dari Solo pake kereta ekonomi, agak serem karena keretanya pas awal-awal berhenti-berhenti sebentar, kemudian orang-orang mengintip ke bawah, seolah-olah keretanya mau anjlok. Serem dah, pokoknya pulang ke Solo lagi ga mau pake kereta ini lagi.
Keesokan harinya, kita mau wawancara ke Bappeda provinsi di Jalan Pemuda. For your information, hotel kita pun di Jalan Pemuda. Tapi karena Sani bilang dia tau dan pernah lewat Bappeda provinsi, okelah saya ikut aja. Katanya dia bilang di sekitar Simpang Lima, maka kami pun nunggu Trans Semarang dan turun di sana. Jalan dikit, ternyata pas sampe sana itu bukan Kantor Bappeda, melainkan kantor DPRD dan Gubernur. Karena mengejar waktu kita harus ke Undip juga, maka kami naik taksi ke Bappeda balik lagi ke Jalan Pemuda. Dan oh my.. kantornya itu ternyata persis di depan hotel kami, tinggal nyebrang.
Belum selesai ceritanya. Abis dari Bappeda kami harus ke Undip. Karena tempatnya di Kampus Tembalang, naik taksi lah ya. Nyampe sana, bingung juga gedungnya yang mana. Saya pun nanya ke mahasiswa, yang mana ruangan Program Doktor Arsitektur dan Perkotaan, dia bilang tanya ke dalam. Tanya ke TU, dia bilang di bawah. Terus kami menuju gedung di sebelah bawah masih ga ketemu juga, akhirnya saya telpon sekretaris profesor yang akan saya temui. Dia bilang, kantornya di Jalan Hayam Wuruk, di daerah SIMPANG LIMA!! Hahaha.. mameen, udah jauh-jauh ke Tembalang, ternyata tempatnya ga jauh juga dari Bappeda. Akhirnya kami balik pun dengan taksi.
Cerita hari ini kemudian lengkap jadinya ketika kami pulang ke Solo dengan travel Cipaganti. Sesampai di shuttle point di Solo, ternyata kami baru sadar ternyata pool Cipagantinya itu tepat di seberang hotel kami. Lagi-lagi!!
—
Cerita mana lagi ya… hmm, lupa lagi. Tapi itulah sekedar cerita tentang penyakit saya yang bernama disorientasi. Lama kelamaan mulai sembuh sih, buktinya saya sekarang bisa menunjukkn jalan ke berbagai tempat di Jababeka yang berputar-putar menyesatkan itu. Bahkan saya sekarang bisa berdebat mau keluar di exit yang mana, dengan pertimbangan medan yang susah atau kemacetan. Pelajaran yang penting dari semua ini adalah, ketika Anda melakukan perjalanan, jangan andalkan orang lain untuk menentukan kemana arah akan berjalan. Anda juga harus belajar dan mengenal terlebih dahulu medan yang akan Anda lalui.
Recent Comments