CGK-DXB DXB-AMS, depart 19 September 2011 00.40, arrive 13.30. Ini perjalanan udara pertama yang saya lakukan sendirian, no partner. Biasanya terbang deket-deket, sekarang jauh dan lama, sendirian lagi. Pantes kan kalo dicatet dalam museum kehidupan, haha.. Perjalanan dengan Emirates cukup menyenangkan dan cukup nyaman. Kalo bosen kita bisa menggunakan small interactive monitor, dimana kita bisa denger podcast, music dan nonton film. Filmnya juga banyak banget, dari tahun jebot sampe yang paling baru. Kalo makanannya, hmm.. ternyata makanan waktu perjalanan dari Jakarta ke Dubai lebih enak dan acceptable daripada dari Dubai ke Amsterdam. Cita rasanya kali ya, makanan dari Dubai kebanyakan menunya Arabian, dan rasanya aneh. Tapi, secara umum, desserts taste good! Ketolong deh..
breakfast meal: Traditional Arabic morning-mezze
lunch meal: chicken fillet with potato, tuna salad etc.
Selama perjalanan saya ga serius tidurnya, kebangun-bangun mulu karena sering haus. Dan memang bentar-bentar kita dianterin makan, minum, abis itu nonton lagi, tidur lagi. Jadi waktu 7 jam itu ga kerasa. Waktu landing yang pertama, ke Dubai, hati ini rasanya mulai berdebar. Wow.. this is my first time in Dubai (airport). Dan memang airportnya bagus ya, termasuk yang gede banget, rame dan lengkap fasilitasnya. Saya disini sempet shower, biar seger karena memang pas di Jakarta ga sempet mandi, wkwk.
Untung transitnya cuma 3 jam, jadi abis mandi, istirahat bentar eh udah boarding lagi. Selama perjalanan ke Amsterdam semakin excited, apalagi pilot bilang dari awal bahwa Schiphol cukup dingin, sekitar 16 derajat celcius. Beberapa momen sebelum mendarat di Amsterdam, eyebird view Belanda keliatan dari atas dan kebetulan saya deket jendela duduknya. Haha.. ini negara kayak maket tapak deh, rapi banget. Dari atas juga keliatan kincir-kincir anginnya. Woo.. ternyata Belanda negara kincir angin itu bukan cerita ya..
Begitu landing di Amsterdam, perasaan saya tidak dapat diilustrasikan dengan kata-kata. Relieved. Saya masih ga percaya saya ada di sini, salah satu negara yang saya mimpikan untuk saya datangi, apalagi setelah kejadian hari kemarin. Tidak ada masalah di imigrasi. Cuma saya ditanya sama officernya, “Are you really Indonesian?” Yes of course. “Not really..” sambil dia nanya ke temen sebelahnya dan meminta persetujuannya kalo saya ga pantes jadi orang Indonesia. Okey, di negara sendiri, di depan rumah sendiri ga dipercaya orang Sunda, sekarang di negara orang ga dipercaya orang Indonesia. Nice!
Begitu keluar airport, saya menuju counter tiket kereta. Ternyata kereta selanjutnya ke Groningen tinggal 25 menit lagi. Yaudah saya beli dan langsung menyeret koper 30 kg saya itu ke lift menuju stasiunnya. Dan woo.. keretanya bagus ya. Mahal sih, sekali jalan 25 euro dong. Kalo di Indonesia itu nyampe dari Bandung ke Solo. Mungkin Amsterdam-Groningen sama aja jaraknya kayak Bandung-Solo, cuma waktu tempuhnya cuma 2,5 jam, hahaha..
Sepanjang perjalanan di kereta ini, saya ga mati gaya juga karena ada wi-fi gratis. Sambil menikmati tampak belakang kota-kota di Belanda, saya melihat sepanjang jalan ini bangunannya mirip-mirip. Juga berpuluh peternakan sapi atau kambing sepanjang jalan ini membuat saya berpikir, ah ini mah di Nagrek, bukan di luar negeri, hahha.. Memang ada kemiripan fisik antara Indonesia dengan Belanda kalo kayak gini.
Begitu nyampe Central Station Groningen, saya udah ditungguin sama Mbak Atik yang saya minta secara khusus untuk menjemput, walaupun dia juga tim penjemput dari PPI. Dari stasiun saya ke tempat tinggal di Planetenlaan naek bus. Ongkosnya 1.5 euro. Hmm.. mahal juga ya.. Katanya sih bisa lebih murah pake kartu langganan gitu. Oke deh.. nanti harus bikin yaa..
Sekarang saya memulai hari baru di Groningen. Kota kecil yang tidak begitu ramai, tapi nampak nyaman untuk belajar. Disini dingin, dinginnya sedingin hatiku konon katanya mah, hahaha.. Nampaknya harus banyak-banyak beli jaket dan sweater–alesan aja buat belanja.
Itulah cerita lengkap kedatangan saya di Nederland. Semoga menjadi inspirasi bagi siapa saja yang bercita-cita study abroad. Bahwa saya yang dilahirkan dari keluarga biasa, dibesarkan dengan kehidupan yang sederhana, datang dari kota kecil, semula tidak pernah kepikiran untuk belajar di luar. Laskar pelangi bukan cuma mimpi, kawan. Maka bermimpilah, jangan takut, Andalah sendiri yang menciptakan jalan untuk mewujudkan mimpi itu. Tapi jangan lupa berserah diri setelah berjuang dan berdoa dengan sekuat-kuatnya. Kalo masalahnya bahasa, kenapa khawatir. Dulu waktu TPB saya masuk kelas reading, which is level terendah dibanding kelas presentation atau writing. Tapi dengan belajar dan berlatih, saya bisa juga menulis artikel yang saya presentasikan sendiri di konferensi internasional dan akan dipublish di satu buku yang akan diterbitkan pada level internasional. Dan akhirnya bisa juga memenuhi syarat masuk universitas. Lalu apa lagi? Jadilah sang pemimpi sekarang juga!
… and my Eurotrip starts here.. (check in)






Recent Comments