Saya akhirnya apply Beasiswa Unggulan DIKTI, skema untuk non-PNS yang di-endorse oleh universitas sebagai calon dosen. Untuk mendapatkan endorsement ini memang cukup ribet. Pertama, kita mengajukan ke Kelompok Keahlian tempat dimana bekerja. Setelah itu, KK mengajukan ke fakultas, dan fakultas kemudian mengajukan ke ITB untuk diterbitkan surat perjanjian kontrak kerja. Masalahnya bagi teman-teman lain adalah ketika minta rekomendasi dari KK atau fakultas, karena tidak semua fakultas mempermudah, dan tidak semua KK mau secara bebas memberikan rekomendasi.
Keribetan lain adalah ketika memasukkan aplikasi, yang katanya online, tapi harus ngasih berkas fisiknya juga. Waktu itu saya dan Priza nganter langsung ke DIKTI, H-2 terakhir ditutup. Tapi eh ternyata, deadlinenya katanya diundur sampai berminggu-minggu, akhir Juni. Wah, gila ya.. padahal di Belanda orang lain udah mulai ngurus visa, ini masih ngurus beasiswa. Saya juga udah ditanyain apakah jadi berangkat tahun ini atau ngga.
Pengumuman beasiswanya akhirnya keluar. Agustus minggu ke-2, ketika seharusnya udah siap berangkat. Alhamdulillah. Alhamdulillah akhirnya beasiswanya diumumin, instead of saya dapet beasiswanya. Huahh.. nunggu pengumuman beasiswa yang diundur-undur ini memang berkhasiat menyebabkan kegalauan akut. Tiap hari bad mood dan kerjaannya refresh website terus. Begitu akhirnya keluar, semuanya terasa lepas. Lega.
Segera setelah pengumuman itu keluar, saya kontak admission officer untuk memberitahukan bahwa saya dapet beasiswa. Fyi, waktu itu dia lagi summer holidays, tapi dia sempet-sempetnya bales email saya untuk segera mengirimkan persyaratan visa. Tentu saja emailnya penuh dengan tanda seru, wkwkwk..
Fyi, long stay visa (MVV) untuk pelajar biasanya yang menguruskan universitasnya, termasuk application fee mereka juga langsung yang bayar. Kita hanya diminta untuk menyiapkan dokumennya lewat pos. Waktu itu saya disuruh mengirimkan legalisir ijazah dan transkrip,copy paspor, formulir MVV, melampirkan pasfoto berlatar abu. Saya kirim pake EMS, lumayan mahal loh, tergantung exchange rate USD juga. Waktu itu saya abis sekitar 250 ribu.
Penantian saya ternyata belum berakhir. Menunggu visa ini merupakan harap-harap cemas juga. Butuh waktu kurang seminggu sejak mengirimkan dokumen ke Groningen. Tapi alhamdulillah, MVV approval saya keluar hanya dalam waktu 7 hari! Semua orang bilang, amazing. Ya, memang Belanda terkenal ribet soal visa, birokrasi panjang dan lama. Ada juga yang bilang Belanda itu sepupu tuanya Indonesia. Birokrasinya sama-sama ribet bet bet.
Setelah MVV approved, saya diminta untuk menghubungi kedutaan apakah visa saya udah bisa diambil. Sehari setelah saya dapet email MVV approval itu, saya telpon ke kedutaan dan katanya visa saya udah selesai. Wow.. cepet yaa.. saya besoknya berencana dateng ke kedutaan. Dan hari itu saya pesen tiket untuk berangkat 4 hari setelah itu. Serba mendadak ya sodara-sodara. Ibu saya dibuat bengong-bengong saya berangkat tiba-tiba kayak gini. Dan.. hari pengambilan visa ini menyimpan cerita tersendiri. Simak di bagian berikutnya, hehehe..

Recent Comments