Posted by: Fikri Zul Fahmi on: November 8, 2009
Hari ini, 8 November 2009 adalah world town planning day. Coba terjemahkan: hari perencanaan kota sedunia. Adakah hari perencanaan wilayah sedunia? Kenapa cuma kota? Sebentar, mungkin saya menerjemahkannya dengan salah. Dalam poster Departemen PU yang mengadakan kegiatan peringatan hari ini dan besok, world town planning day ditransliterasi menjadi ‘hari penataan ruang’. Penataan ruang: spatial planning, yang ini justru mencakup perencanaan wilayah, kawasan metropolitan, agropolitan, bahkan penataan ruang nasional.
Kali ini saya cuma mau merefleksikan betapa kita harus memperhatikan bukan hanya perkotaan (urban), tetapi sistem yang lebih besar dari itu. Kita, secara awam hingga kepakaran, terindikasi lebih peduli kepada perkotaan. Siapa sih memang yang tidak nyaman tinggal di kota dengan fasilitas berjuta kali lebih cozy untuk memanjakan diri, kesempatan akan pendidikan yang lebih menjanjikan, urbanisme yang sangat mendukung untuk berbudaya kekotaan yang ‘tinggi’ yang secara bulat mengamini konsep bahwa kesejahteraan adalah tingginya konsumsi. Tapi apa yang terjadi, urbanisasi pada akhirnya menjadi persoalan yang memusingkan ketika perkotaan tidak mampu melayani secara layak orang-orang yang paritas daya belinya rendah sehingga mereka menjadi kelompok yang termarginalkan. Perdesaan juga menerima akibatnya karena justru ia kekurangan sumber daya manusia untuk menggerakkan perekonomian. Perdesaan semakin tidak memiliki daya dukung dan pada akhirnya perkotaan lebih dicintai dan hari ke hari perdesaan pada akhirnya bertransformasi menjadi perkotaan. Kota selalu berderajat lebih tinggi dari desa (ndeso).
Orang-orang awam mengenal ‘planologi’ sebagai penataan kota (tata kota), tetapi kita yang belajar di dalamnya akan mengatakan lain. Bahwa sebenarnya masih banyak fokus dan track yang lain yang dapat dipedulikan karena persoalan perencanaan bukan hanya kota saja. Coba lihat kota yang tidak akan berdaya tanpa desa, karena makanan (beras, sayuran, daging, ikan, dsb) itu diproduksi di desa. Kalau semuanya menjadi kota, memangnya siapa yang akan menjamin orang-orang kota bisa makan? Apa kita mau impor dan impor terus, kemudian berketergantungan kepada negara lain?
Saya selalu melihat bahwa penataan kota akan selalu pincang jika kita tidak peduli kepada wilayah yang terkait dengannya. Sementara itu, orang-orang selalu lebih tertarik membicarakan perkotaan yang ’sangat’ kota, metropolitan, padahal persoalan mungkin saja lebih urgen dibahas pada kota-kota menengah, yang mungkin akan menjadi kota-kota masa depan. Kita tidak boleh melupakan perdesaan yang menjadi lumbung padi, yang hasilnya kita makan setiap hari di kota, begitu pula sayuran, buah-buahan, yang tidak diproduksi di perkotaan. Keterkaitan desa-kota (urban-rural relation) adalah suatu hal yang penting demi pengembangan wilayah yang berkelanjutan. Ketimbang kerepotan menyediakan infrastruktur yang tidak pernah memenuhi kebutuhan di perkotaan, kenapa bukan rural-urban relation yang diperkuat?
Sayangnya hal seperti ini tidak serta kita lihat. Diskresi daerah (pemekaran daerah) justru menunjukkan fenomena banyak kota-kota baru yang dimekarkan dari kabupatennya. Kota-kota ini kemudian menjadi otonom yang seolah bebas dari induknya. Hubungannya seolah menjadi independen, dan wassalam dengan rural-urban relation. Maksud saya berurai seperti ini bahwa di Indonesia justru wilayah masih menempati posisi yang lebih penting. Porsi wilayah masih lebih besar dan penting dalam pandangan ekonomi maupun lingkugan. Lagi, penataan kota tidak akan pernah mencapai cita-citanya, karena kita tidak pernah bisa mengendalikan urbanisasi. Selain itu, kota juga tidak bisa menjadi daerah yang tertutup yang melarang orang-orang masuk dan tinggal di dalamnya.
World Town Planning Day di Indonesia, bagi saya tidak merefleksikan secara bulat-bulat penataan kota saja, tetapi di dalamnya terdapat semangat yang lebih besar dari itu. “Penataan ruang” menunjukkan keutuhan perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian pemanfatan ruang yang merepresentasikan bahwa di Indonesia world town planning day tidak bisa hanya dimaknai dengan perencanaan kota saja. Akan tetapi orang kebanyakan lebih mengenal perencanaan kota (tata kota) ketimbang perencanaan secara utuh, atau regional planning yang menuntut pemikiran yang lebih komperehensif, maka istilah ‘tata kota’ ini cukup ampuh untuk lebih ekstensif memperkenalkan disiplin keilmuan dan keprofesian para planner. Lebih jauh lagi, untuk terus menunjukkan bahwa perencanaan dapat memberikan peran yang penting dalam menentukan masa depan kita bersama pada masa yang akan datang.
November 8, 2009 pada 2:11 am
aku kmrn kesana pin
tp masa ga ada stand PL ITB..adanya trisakti, UNTAR, sama ITI
November 11, 2009 pada 1:28 pm
oh ya? ya ampun.. gimana sih, katanya unggul dalam physical planning.. haha, orang2nya pada sibuk PPGC kali ya.. Plano 50 deh.. hehe